Selasa, 12 Juni 2012

Tahesta Luncurkan Lite Apel dan Anggur

Darmonews.com- PT. Tirta Sarana Sukses kembali menghadirkan produk minuman kesehatan, yakni Tahesta Lite Apel dan Anggur. Sebelumnya, PT. Tirta Sarana Sukses sudah dikenal dengan produk minuman kesehatan bernama Cuka Apel, Cuka Bunga Rosela dan Cuka Anggur Tahesta.
Vera Christianti, Marekting Manager PT. Tirta Sarana Sukses mengatakan, produk baru ini merupakan bentuk diversifikasi dari produk unggulan Tahesta sebelumnya sebagai produk pertama yang dapat langsung diminum. Tak seperti minuman segar lainnya, Tahesta Lite diklaim menjadi minuman segar pertama di Indonesia yang memiliki rasa yang unik.
“Kami sengaja menghadirkan produk dengan rasa dan aroma baru untuk memberi warna yang berbeda dalam varitas produk-produk unggulan Tahesta. Tahesta Lite merupakan upaya pengembangan produk untuk memenuhi permintaan pasar yang selalu penasaran dengan sensasi rasa minuman baru dari Tahesta,” ujarnya.
Vera menjelaskan, Tahesta Lite memiliki rasa yang unik dan asik untuk dinikmati. Rasa inilah yang membedakan dengan jenis minuman kesegaran lainnya. Terbuat dari perpaduan sari apel Manalagi dan cuka apel. Sedangkan Tahesta Lite Anggur terbuat dari Anggur pilihan jenis Alphonso Lavalle dimana merupakan jenis Anggur varietas unggul yang biasa digunakan sebagai bahan minuman Anggur di Eropa serta cuka Anggur.
Sementara itu, Ronald Eka Putra, Executive Director PT. Tirta Sarana Sukses menambahkan, Tahesta memiliki keunggulan karena terbuat dari bahan-bahan asli dan alami, mengandung antioksidan dan seratnya baik untuk pencernaan. “Minuman ini menggunakan gula rendah kalori sehingga aman dikonsumsi siapa saja, mulai anak-anak sampai dewasa,''pungkasnya. (*) Baca Selanjutnya

Kamis, 22 Desember 2011

Obsesi Effendi Pudjihartono, Pemilik Nasgor Kraton


Terdorong kecintaan terhadap masakan Indonesia, Effendi Pudjihartono memutuskan untuk mendirikan Kraton Resto dengan spesialisasi Nasi Goreng dan Mie Goreng. Obesesi besarnya adalah menjadikan nasi goreng/mie goreng go internasional. Seperti apa lika-liku perjalanannya?


Lahir dan besar di sebuah kampung di Surabaya, membuat Effendi Pudjihartono akrab dengan makanan kampung. Salah satu yang menjadi favoritnya adalah nasi goreng dan mie goreng. Kebetulan, di lingkungan tempat tinggalnya, terdapat beberapa penjual nasi goreng/mi goreng jawa dengan berbagai kreasi dan versi mereka masing masing dengan kelezatan tetap terasa khas.

Beranjak dewasa, Effendi makin mengintensifkan diri dalam memburu nasi goreng/mie goreng. Tidak hanya di lingkungan tempat tinggalnya, namun telah merambah ke area yang lebih luas di sekitar surabaya, di jalan Kapasan, Ondomohen, dan lainnya.

Dari pencarian rasa tersebut, ada beberapa hal yang mengganjal hati beliau dan terasa kurang tepat dalam berbagai hal, antara lain menyangkut hygine (kebersihan), mutu bahan baku yang digunakan, banyaknya porsi penyedap rasa yang selalu membuat haus setelah makan, sampai cara penyajian yang asal asalan.

Sekilas, ini mungkin bukan masalah besar bagi kebanyakan orang, namun bagi penggemar berat adi rasa ini sedikit terganggu. Inilah yang membuat Effendi semakin terobsesi untuk membuat sebuah restoran nasi goreng/mie goreng jawa yang bersih, sehat dan berkelas.

Ambisi itu Sempat Terkubur

Keinginan Effendi untuk membuka restoran nasi goreng/mie jawa sempat terkubur lama. Itu terjadi kala ia kuliah di luar negeri pada akhir tahun 1985 hingga 1990. Namun, di luar dugaan, justru insting dan kemampuan untuk memasak dan meracik bumbu lebih tersalurkan.

“Karena keterbatasan biaya, saya harus belajar untuk memasak makanan sendiri karena untuk makan di restoran Indonesia atau Asia lainnya jelas menguras kantong yang memang pas-pasan saat itu,” kenang Effendi.

Dengan kondisi yang pas-pasan itu, Effendi mulai belajar, autodidak. Ia memadukan berbagai experimen dari pengalaman rasa sebelumnya, observasi mengenai kebersihan, pengolahan makanan dan penyajian dengan standar internasional. Lambat laun, Effendi mulai bisa menciptakan dan mengubah resep-resep masakan Indonesia dengan koleksi rempah rempah yang sangat terbatas, namun bisa menghasilkan makanan yang lezat..

Tahun 1991, Effendi kembali ke Indonesia. Namun, karena latar belakang pendidikannya di bidang teknik, ia segera terbelenggu oleh kesibukan dalam merintis karier dan kemudian mengembangkan perusahaan yang didirikan. Kini, perusahaan itu berkembang menjadi grup perusahaan yang mencakup bidang Rekayasa Engineering, Proffessional Mould maker , Industri plastik, Plywood /woodworking Industry , jasa Import export dan Petro Chemical.

Kuliner itu Panggilan Jiwa

Namun, kecintaan terhadap masakan Indonesia, jiwanya tetap terpanggil untuk mendirikan sebuah restoran. Akhirnya, pada tahun 2004 bulan April, Effendi memutuskan untuk mendirikan "Kraton Resto" yang pertama dengan spesialisasi Nasi goreng/Mi goreng jawa. Kali pertama, restoran ini buka di Ruko Villa Bukit Mas RQ-02 dengan sambutan yang luar biasa dari masyarakat dan penggemar Nasi goreng/mi goreng.

Hanya saja, sambutan positif dari masyarakat itu tidak langsung membuat Effendi gegabah. Justru, ia sempat menghentikan usahanya itu sembari menyempurnakan diri dengan layanan dan manajemen yang lebih profesional. Ia ingin Konsep Kraton yang terus disempurnakan, bisa membuat masakan "Kampoeng" ini bisa diterima secara Internasional. Ia yakin bahwa nasi goreng jawa/mi goreng jawa akan bisa diterima semua kalangan apabila dikemas dalam konsep yang benar.

Proses pencarian pun kembali dilakukan Kraton Resto. Dengan pengalaman yang cukup, mulailah Effendi melakukan pencarian cita rasa sesungguhnya dari nasi Goreng jawa. Ia mulai dari penggunaan mie telor yang otentik dan diproduksi dengan resep asli dan standar kebersihan yang terbaik, bukan mie boraks yang mayoritas masih digunakan pedagang kaki lima pada umumnya. Ia menggunakan udang kupas daging, bukan udang kulit dan campuran terasi yang sering membuat iritasi pada tenggorokan usai makan. Ia gunakan kaldu asli dan bukan MSG atau penyedap masakan berlebih.

Pencarian ini ternyata memakan waktu lebih dari 4 tahun dimulai sejal tahun 2004 sampai dengan 2008 dan masih terus berlangsung hingga saat ini. Hasil dari pencarian tersebut dibukukan sebagai resep rahasi Kraton yang unik dan khas, yang berbeda dari Nasi goreng/Mi goreng jawa pada umumnya saat ini. Pelanggan kraton akan segera bisa membedakan Kraton dari yang lainnya. Karena ciri khas inilah, jumlah pelanggan terus bertambah dan datang dari pelbagai negara dan bangsa, mulai dari negara jiran Malaysia, Singapore, Taiwan sampai yang berasal dari Amerika.

Hingga saat ini tanpa terasa telah berdiri 8 Outlet Resto Kraton yang tersebar di beberapa lokasi di sekitar surabaya. Karena banyaknya permintaan untuk bekerjasama, sejak tahun 2007 Managemen Kraton telah merancang sistem managemen Franchise yang memungkin an dibukanya Outlet lain di luar surabaya namun dengan rasa yang sama di setiap outlet. (sir)


Baca Selanjutnya

Selasa, 20 Desember 2011

Kambing Super Empuk di Depot Ampel

Bosan dengan menu sehari-hari yang Indonesian Food melulu? Sesekali, bolehlah mencoba menu masakan khas Timur Tengah. Salah satu depot yang menyajikan menu Timur Tengah itu adalah Depot Ampel, yang lebih dikenal dengan olahan kambingnya yang empuk.
 
 
Depot Ampel yang berlokasi di jalan Walikota Mustajab ini dirintis oleh H.M. Fathony sejak 19 Oktober 1994. Nama Ampel, di ambil dari pemilik restoran ini yang berasal dari Ampel. Ampel adalah salah satu wilayah tertua dari kota Surabaya, dimana disana tumbuh dan berkembang berbagai macam etnik dan keturunan, mulai dari Jawa, Arab, India, Cina, Madura hingga Tionghoa
Depot ini terkenal dengan menu olahan kambing, yang sangat empuk. Salah satu yang jadi andalan adalah kambing oven. Sebelum dipanggang dalam oven, daging kambing direndam dengan bumbu terlebih dahulu sekitar 30 menit sehingga menghasilkan rasa yang memikat.
Selain kambing oven, nasi kebuli juga jadi favorit. Nasi ini berwarna coklat mirip nasi goreng. Bedanya, nasi kebuli ini dimasak dengan bumbu dan santan agar terasa gurih. Untuk penyajiannya, ditemani dengan krengsengan daging kambing di atasnya.
Tersedia pula menu khas Timur Tengah lain seperti kambing bakar, sate kambing, steak kambing, nasi goreng kambing, nasi briyani, kikil kambing, gule kambing, gule kacang ijo, sate buntel/rudal, sate sum-sum, dan nasi tomat dan roti maryam.

Perpaduan Timur Tengah & Bumbu Lokal
Meski menu-menu yang disajikan khas Timur Tengah, namun rempah yang digunakan tidak melulu khas Timur Tengah. Depot Ampel memadukan rasa antara masakan khas timur tengah dengan bumbu lokal sehingga dapat dinikmati oleh lidah orang Indonesia. Perpaduan bumbu rempah antara timur tengah dan rempah tanah jawa menghasilkan rasa yang bisa dinikmati oleh semua kalangan.
Selain makanan, ada juga minuman khas di depot ini. Yang paling digemari pengunjung adalah teh rempah, kopi arab, dan es tamarin. Teh rempah terbilang unik karena menggunakan rempah sebagai bahan. Rasa teh ini segar dan berkhasiat untuk menghilangkan masuk angin.
Ada juga sambosa, yakni snack khas dari Timur Tengah bentuknya seperti martabak berbentuk segitiga dan berisi banyak daging kambing dan diberi potongan cabai hijau. Kita dapat memilih sendiri membeli sambosa itu dalam keadaan mentah siap goreng, atau sudah matang digoreng. Menu ini dijual seharga Rp 20 ribu per 10 buah.
Meski kapasitas tempat duduk tidak terlalu luas, hanya bisa menampung sekitar 20 orang, namun pengunjung yang datang bermacam-macam. Ada yang dari kalangan biasa, artis hingga pejabat. Bahkan, pemandu kuliner yang terkenal dengan ikon maknyuus, Pak Bondan Winarno juga penah mampir di warung ini.
Untuk harga tiap menu masakannya cukup beragam. Untuk masakan nasi, rata-rata Rp 18 ribu, masakan kuah rata-rata Rp 20 ribu, sop buntut daging sapi seharga Rp 22 ribu, steak seharga Rp 32 ribu, dan masih banyak lainnya. Penasaran. silahkan mencoba dan rasakan sensasi kenikmatan menu khas timur tengah yang benar-benar beda. (sir)

Daftar menu:
Makanan
  • Kambing Oven
  • Steak Kambing
  • Sate Kambing
  • Gulai Kambing
  • Kikil Kambing
  • Krengsengan
  • Nasi Kebuli
  • Nasi Goreng
  • Roti Maryam
  • Gulai Kacang Hijau + Roti Maryam
Minuman
  • Kopi Arab
  • Es Tamarin
  • Teh Rempah
  • Susu kambing komplit

Depot Ampel Surabaya
Jl Walikota Mustajab No.33B Surabaya
Telp. 031-5466462
Jam buka : 10.00-21.00 Wib (Senin-Sabtu), 10.00-18.00 Wib (Minggu)
 
Baca Selanjutnya

Obsesi Effendi Pudjihartono, Pemilik Nasgor Kraton


Terdorong kecintaan terhadap masakan Indonesia, Effendi Pudjihartono memutuskan untuk mendirikan Kraton Resto dengan spesialisasi Nasi Goreng dan Mie Goreng. Obesesi besarnya adalah menjadikan nasi goreng/mie goreng go internasional. Seperti apa lika-liku perjalanannya?
 
Lahir dan besar di sebuah kampung di Surabaya, membuat Effendi Pudjihartono akrab dengan makanan kampung. Salah satu yang menjadi favoritnya adalah nasi goreng dan mie goreng. Kebetulan, di lingkungan tempat tinggalnya, terdapat beberapa penjual nasi goreng/mi goreng jawa dengan berbagai kreasi dan versi mereka masing masing dengan kelezatan tetap terasa khas.
Beranjak dewasa, Effendi makin mengintensifkan diri dalam memburu nasi goreng/mie goreng. Tidak hanya di lingkungan tempat tinggalnya, namun telah merambah ke area yang lebih luas di sekitar surabaya, di jalan Kapasan, Ondomohen, dan lainnya.
Dari pencarian rasa tersebut, ada beberapa hal yang mengganjal hati beliau dan terasa kurang tepat dalam berbagai hal, antara lain menyangkut hygine (kebersihan), mutu bahan baku yang digunakan, banyaknya porsi penyedap rasa yang selalu membuat haus setelah makan, sampai cara penyajian yang asal asalan.
Sekilas, ini mungkin bukan masalah besar bagi kebanyakan orang, namun bagi penggemar berat adi rasa ini sedikit terganggu. Inilah yang membuat Effendi semakin terobsesi untuk membuat sebuah restoran nasi goreng/mie goreng jawa yang bersih, sehat dan berkelas.

Ambisi itu Sempat Terkubur
Keinginan Effendi untuk membuka restoran nasi goreng/mie jawa sempat terkubur lama. Itu terjadi kala ia kuliah di luar negeri pada akhir tahun 1985 hingga 1990. Namun, di luar dugaan, justru insting dan kemampuan untuk memasak dan meracik bumbu lebih tersalurkan.
“Karena keterbatasan biaya, saya harus belajar untuk memasak makanan sendiri karena untuk makan di restoran Indonesia atau Asia lainnya jelas menguras kantong yang memang pas-pasan saat itu,” kenang Effendi.
Dengan kondisi yang pas-pasan itu, Effendi mulai belajar, autodidak. Ia memadukan berbagai experimen dari pengalaman rasa sebelumnya, observasi mengenai kebersihan, pengolahan makanan dan penyajian dengan standar internasional. Lambat laun, Effendi mulai bisa menciptakan dan mengubah resep-resep masakan Indonesia dengan koleksi rempah rempah yang sangat terbatas, namun bisa menghasilkan makanan yang lezat..
Tahun 1991, Effendi kembali ke Indonesia. Namun, karena latar belakang pendidikannya di bidang teknik, ia segera terbelenggu oleh kesibukan dalam merintis karier dan kemudian mengembangkan perusahaan yang didirikan. Kini, perusahaan itu berkembang menjadi grup perusahaan yang mencakup bidang Rekayasa Engineering, Proffessional Mould maker , Industri plastik, Plywood /woodworking Industry , jasa Import export dan Petro Chemical.

Kuliner itu Panggilan Jiwa
Namun, kecintaan terhadap masakan Indonesia, jiwanya tetap terpanggil untuk mendirikan sebuah restoran. Akhirnya, pada tahun 2004 bulan April, Effendi memutuskan untuk mendirikan "Kraton Resto" yang pertama dengan spesialisasi Nasi goreng/Mi goreng jawa. Kali pertama, restoran ini buka di Ruko Villa Bukit Mas RQ-02 dengan sambutan yang luar biasa dari masyarakat dan penggemar Nasi goreng/mi goreng.
Hanya saja, sambutan positif dari masyarakat itu tidak langsung membuat Effendi gegabah. Justru, ia sempat menghentikan usahanya itu sembari menyempurnakan diri dengan layanan dan manajemen yang lebih profesional. Ia ingin Konsep Kraton yang terus disempurnakan, bisa membuat masakan "Kampoeng" ini bisa diterima secara Internasional. Ia yakin bahwa nasi goreng jawa/mi goreng jawa akan bisa diterima semua kalangan apabila dikemas dalam konsep yang benar.
Proses pencarian pun kembali dilakukan Kraton Resto. Dengan pengalaman yang cukup, mulailah Effendi melakukan pencarian cita rasa sesungguhnya dari nasi Goreng jawa. Ia mulai dari penggunaan mie telor yang otentik dan diproduksi dengan resep asli dan standar kebersihan yang terbaik, bukan mie boraks yang mayoritas masih digunakan pedagang kaki lima pada umumnya. Ia menggunakan udang kupas daging, bukan udang kulit dan campuran terasi yang sering membuat iritasi pada tenggorokan usai makan. Ia gunakan kaldu asli dan bukan MSG atau penyedap masakan berlebih.
Pencarian ini ternyata memakan waktu lebih dari 4 tahun dimulai sejal tahun 2004 sampai dengan 2008 dan masih terus berlangsung hingga saat ini. Hasil dari pencarian tersebut dibukukan sebagai resep rahasi Kraton yang unik dan khas, yang berbeda dari Nasi goreng/Mi goreng jawa pada umumnya saat ini. Pelanggan kraton akan segera bisa membedakan Kraton dari yang lainnya. Karena ciri khas inilah, jumlah pelanggan terus bertambah dan datang dari pelbagai negara dan bangsa, mulai dari negara jiran Malaysia, Singapore, Taiwan sampai yang berasal dari Amerika.
Hingga saat ini tanpa terasa telah berdiri 8 Outlet Resto Kraton yang tersebar di beberapa lokasi di sekitar surabaya. Karena banyaknya permintaan untuk bekerjasama, sejak tahun 2007 Managemen Kraton telah merancang sistem managemen Franchise yang memungkin an dibukanya Outlet lain di luar surabaya namun dengan rasa yang sama di setiap outlet. (sir)
Baca Selanjutnya

Minggu, 05 Juni 2011


Rumah Makan Juwono punya cara tersendiri untuk menarik minat pelanggan. Mereka menyajikan menu khas yang terbilang unik dan mungkin baru satu-satunya di Surabaya. Menu itu adalah Sop Skengkel Juwono. Anda bisa memilih skengkel buntut atau iga yang sama-sama mantapnya.

Bagi sebagian orang, menikmati sop buntut mungkin sudah biasa. Tapi bagaimana jika sop buntut itu ditemani skengkel (tulang kaki sapi). Pada awalnya, tentu anda akan terheran-heran, terutama bagaimana cara memakannya. Namun, setelah tahu tekniknya, menikmati menu sop buntut skengkel ternyata merupakan kenikmatan tersendiri.
Menyeruput skengkel ini memang ada tekniknya. Agung, pemilik rumah makan mengatakan, sebelum menyeruput skengkel, terlebuh dulu harus memasukkan kuah sop ke dalam skengkel. Setelah itu, diaduk-aduk hingga agak encer. Barulah setelah itu bisa diseruput dengan sedotan yang telah disediakan. “Skengkel di tempat kami ini pilihan mas, dan kaya sumsum yang baik untuk penguatan tulang,” ujar Agung.

Untuk memenuhi kebutuhan pelanggan, Agung mengaku telah mendapatkan stok khusus yang akan menyediakan skengkel setiap saat. Karena itu, pelanggan tak perlu khawatir kehabisan skengkel. “Kita sudah punya stok khusus yang menyuplai kebutuhan skengkel itu,” papar Agung.

Selain sop skengkel buntut, RM Juwono juga menyediakan sop skengkel iga. Kedua menu ini memang yang paling favorit di rumah makan, yang beralamat di Jl. Juwono, Surabaya itu. Selain baru satu-satunya di Surabaya, menu ini memiliki rasa yang unik segar dan gurih. Dagingnya pun, baik yang Iga maupun buntut sama-sama empuknya.

Kenikmatan itu pun makin lengkap lantaran harga yang dipatok pun tak terlalu mahal untuk ukuran seporsi sop skengkel yang cukup besar. Sop skengkel buntut harganya berkisar Rp, 25 ribuan. Sementara sop skengkel iga harganya berkisar Rp. 15 ribu hingga Rp. 20 ribu. “Selain kedua menu itu, kami menyajikan pula menu Ayam Bledek Pedas,” paparnya.

Rasa Lugas Khas Suroboyoan
Sop buntut skengkel khas Juwono memang memiliki rasa yang mantap. Rasa kuahnya segar, daging buntutnya empuk, ditambah skengkelnya yang banyak mengandung sumsum. Akan makin mantap dengan sambalnya yang superpedas. Boleh dibilang rasa sop buntut ini khas suroboyan, yang cenderung lugas: asin, gurih, dan asamnya begitu melekat di lidah.

Salah seorang pengunjung, Adi, 28 tahun, mengaku terpikat dengan Sop Buntut Skengkel Juwono. Menurutnya, sebagai penggemar sop buntut, ia bisa merasakan perbedaaan yang khas antara sop buntut skengkel Juwono dengan sop buntut lainnya.

“Ada rempah khas yang begitu kuat di sop buntut Juwono ini. Dan, inilah yang sangat membedakan dengan sop buntut lainnya. Kalau penasaran, boleh dicoba lha,” papar Edi, pegawai perusahaan swasta ini.

Sama halnya dengan Adi, pengunjung yang lain, Udin juga mengaku kesengsem dengan menu sop skengkel itu. Awalnya, kata Udin, ia penasaran lantaran menu ini terbilang aneh, terutama sajian skengkelnya. Karena penasaran, saya coba pesan. Ternyata enak juga. Kuahnya seger. Sumsumnya mantap,” terang Udin.

Begitu terpikatnya pengunjung dengan sajian menu khas ini, tak berlebihan kiranya jika RM Juwono menjadikan kedua menu ini sebagai andalan. Nah, jika anda penasaran untuk menikmati menu skengkel khas Juwono, datang saja ke depotnya di Jl. Juwono no 7-9, Surabaya. (sir)

Baca Selanjutnya

Mencicipi Skengkel Buntut RM Juwana

Rumah Makan Juwono punya cara tersendiri untuk menarik minat pelanggan. Mereka menyajikan menu khas yang terbilang unik dan mungkin baru satu-satunya di Surabaya. Menu itu adalah Sop Skengkel Juwono. Anda bisa memilih skengkel buntut atau iga yang sama-sama mantapnya.
Bagi sebagian orang, menikmati sop buntut mungkin sudah biasa. Tapi bagaimana jika sop buntut itu ditemani skengkel (tulang kaki sapi). Pada awalnya, tentu anda akan terheran-heran, terutama bagaimana cara memakannya. Namun, setelah tahu tekniknya, menikmati menu sop buntut skengkel ternyata merupakan kenikmatan tersendiri.

Menyeruput skengkel ini memang ada tekniknya. Agung, pemilik rumah makan mengatakan, sebelum menyeruput skengkel, terlebuh dulu harus memasukkan kuah sop ke dalam skengkel. Setelah itu, diaduk-aduk hingga agak encer. Barulah setelah itu bisa diseruput dengan sedotan yang telah disediakan. “Skengkel di tempat kami ini pilihan mas, dan kaya sumsum yang baik untuk penguatan tulang,” ujar Agung.

Untuk memenuhi kebutuhan pelanggan, Agung mengaku telah mendapatkan stok khusus yang akan menyediakan skengkel setiap saat. Karena itu, pelanggan tak perlu khawatir kehabisan skengkel. “Kita sudah punya stok khusus yang menyuplai kebutuhan skengkel itu,” papar Agung.

Selain sop skengkel buntut, RM Juwono juga menyediakan sop skengkel iga. Kedua menu ini memang yang paling favorit di rumah makan, yang beralamat di Jl. Juwono, Surabaya itu. Selain baru satu-satunya di Surabaya, menu ini memiliki rasa yang unik segar dan gurih. Dagingnya pun, baik yang Iga maupun buntut sama-sama empuknya.

Kenikmatan itu pun makin lengkap lantaran harga yang dipatok pun tak terlalu mahal untuk ukuran seporsi sop skengkel yang cukup besar. Sop skengkel buntut harganya berkisar Rp, 25 ribuan. Sementara sop skengkel iga harganya berkisar Rp. 15 ribu hingga Rp. 20 ribu. “Selain kedua menu itu, kami menyajikan pula menu Ayam Bledek Pedas,” paparnya.

Rasa Lugas Khas Suroboyoan
Sop buntut skengkel khas Juwono memang memiliki rasa yang mantap. Rasa kuahnya segar, daging buntutnya empuk, ditambah skengkelnya yang banyak mengandung sumsum. Akan makin mantap dengan sambalnya yang superpedas. Boleh dibilang rasa sop buntut ini khas suroboyan, yang cenderung lugas: asin, gurih, dan asamnya begitu melekat di lidah.

Salah seorang pengunjung, Adi, 28 tahun, mengaku terpikat dengan Sop Buntut Skengkel Juwono. Menurutnya, sebagai penggemar sop buntut, ia bisa merasakan perbedaaan yang khas antara sop buntut skengkel Juwono dengan sop buntut lainnya.

“Ada rempah khas yang begitu kuat di sop buntut Juwono ini. Dan, inilah yang sangat membedakan dengan sop buntut lainnya. Kalau penasaran, boleh dicoba lha,” papar Edi, pegawai perusahaan swasta ini.

Sama halnya dengan Adi, pengunjung yang lain, Udin juga mengaku kesengsem dengan menu sop skengkel itu. Awalnya, kata Udin, ia penasaran lantaran menu ini terbilang aneh, terutama sajian skengkelnya. Karena penasaran, saya coba pesan. Ternyata enak juga. Kuahnya seger. Sumsumnya mantap,” terang Udin.

Begitu terpikatnya pengunjung dengan sajian menu khas ini, tak berlebihan kiranya jika RM Juwono menjadikan kedua menu ini sebagai andalan. Nah, jika anda penasaran untuk menikmati menu skengkel khas Juwono, datang saja ke depotnya di Jl. Juwono no 7-9, Surabaya. (sir)
Baca Selanjutnya

Kreasi Olahan Bandeng di Cooking Show JMP


Kreasi Olahan Bandeng di Cooking Show JMP

Surabaya FR- Cooking Show JMP yang digelar untuk kedua kalinya ini, memberikan warna tersendiri pada peserta yang ingin berkreasi dengan sajian istimewa aneka kreasi olahan bandeng.
Sekitar 50 peserta, Sabtu (28/5) lalu mengikuti acara cooking show yang digelar Tabloid FOOD&RESTO bekerjasama dengan JMP Pusat Grosir. Para peserta, yang kebanyakan ibu rumah tangga terlihat begitu antusias mengikuti acara yang dimulai pukul 11.00 dan berakhir pukul 14.00 ini.
Acara Cooking Show kali ini menampilkan Cak Teguh Imam Prayogi, ST, ahli mengolah bandeng yang juga pemilik waroeng bandeng kapasari. Ada tiga menu yang didemokan di event cooking show ini. Pertama, mengenai Teknik Cabut Duri Bandeng. Kedua, menu bandeng bakar. Dan, ketiga menu bandeng cryspi.
Cak Teguh, yang sudah 10 tahun bergelut di bisnis olahan bandeng tampil begitu bersemangat. Sementara itu, para peserta menyaksikan dengan seksama arahan atau panduan dari Cak Teguh tahap demi tahap.
Di awal acara, sebelum mempraktekkan Teknik Cabut Duri, Cak Teguh mengungkapkan bahwa hal pertama yang harus dilakukan sebelum mengolah bandeng adalah harus tepat memilih bandeng. “Pastikan bandeng yang ibu-ibu pilih haruslah segar sehingga hasil olahannya pun akan maksimal,” terang Cak Teguh.
Bandeng yang segar, jelas Cak Teguh, memiliki ciri, di antaranya mata bening dan cembung. insang berwarna merah darah, perut utuh, kulit cerah berlendir tipis merata, daging kenyal dan jika dimasukkan ke dalam air akan tenggelam.
Tak kalah pentingnya, lanjut Cak Teguh adalah memastikan bandeng yang dipilih bebas bau tanah. Bandeng yang tidak bau tanah, biasanya memiliki ciri warna punggung berwarna hitam/gelap dan warna bibirnya cenderung berwarna merah seperti memakai lipstik.

10 Menit untuk Cabut Duri
Bandeng ternyata memiliki susunan duri yang terstruktur. Dari penjelasan Cak Teguh terungkap bahwa bandeng memiliki duri hampir merata dari punggung, perut, dada, hingga pangkal ekor. ”Kalau ditotal, jumlahnya sekitar 164 duri,” jelasnya.
Selain telah mengetahui komposisi duri bandeng, Cak Teguh juga terlihat begitu terampil dalam melepas duri-duri bandeng. Tak lebih dari 10 menit, Cak Teguh telah berhasil melepaskan duri-duri bandeng tersebut dari punggung hingga pangkal ekor.
”Untuk melepas duri bandeng ini, ibu-ibu bisa menggunakan pisau atau alat pencabut duri seperti ini. Jika menggunakan pisau, waktunya relatif lama, namun jika menggunakan alat ini bisa lebih cepat dan praktis,” ungkapnya.

Dua Menu Olahan Bandeng
Selesai memperagakan teknik cabut duri, Cak Teguh, yang juga pemilik Waroeng Bandeng Kapasari ini memperagakan dua olahan menarik berbahan bandeng, yakni Bandeng Bakar dan Bandeng Cryspi bebas duri.
Bandeng Bakar merupakan sajian istemewa yang mengundang selera. Sesuai namanya, menu ini diolah dengan cara dibakar. Pertama-tama, bandeng yang sudah direndam dalam bumbu khusus ditaruh di atas ram bakaran dan diolesi bluebland, setelah itu baru api pemanggang mulai dinyalakan.
Selama pemanggangan, bandeng diolesi dengan bumbu hingga beberapa kali. Biar merata, bisa menggunakan kuas untuk mengolesi bandeng tersebut. Untuk proses pembakaran bandeng, membutuhkan waktu kurang lebih 30 menit.
Menu kedua yang diperagakan Cak Teguh adalah Bandeng Cryspi. Menu ini terbilang cukup simpel pembuatannya. Bahan bandeng yang sudah dipotong-potong kecil direndam dalam adonan cair, lalu dimasukkan ke adonan kering berulang-ulang. Setelah itu, digoreng dalam penggorengan dengan perapian sedang. ”Jika warna sudah kecoklatan, segera diangkat dan ditiriskan,” terang Cak teguh.
Cooking Show Kreasi olahan bandeng ini, ternyata cukup memikat hati peserta. Puriningtyas (25), salah seorang peserta mengungkapkan, materi kreasi olahan bandeng yang disajikan membuat dirinya mendapatkan pengalaman baru mengenai teknik cabut duri dan proses memasaknya. ”Saya senang bisa ikut acara ini, mudah-mudahan ke depan bisa lebih bervariasi lagi,” papar wanita asal Pagesangan ini.
Sementara itu, Manager of Duty JMP, Agung Santoso, mengungkapkan bahwa event cooking show ini, para peserta diharapkan tidak hanya mengetahui bagaimana cara memilih bahan masakan yang tepat, akan tetapi juga mengetahui bagaimana mengolah masakan tersebut dengan cara yang tepat. (*)
Baca Selanjutnya