Terdorong kecintaan terhadap masakan Indonesia, Effendi Pudjihartono memutuskan untuk mendirikan Kraton Resto dengan spesialisasi Nasi Goreng dan Mie Goreng. Obesesi besarnya adalah menjadikan nasi goreng/mie goreng go internasional. Seperti apa lika-liku perjalanannya?
Lahir dan besar di sebuah kampung di Surabaya, membuat Effendi Pudjihartono akrab dengan makanan kampung. Salah satu yang menjadi favoritnya adalah nasi goreng dan mie goreng. Kebetulan, di lingkungan tempat tinggalnya, terdapat beberapa penjual nasi goreng/mi goreng jawa dengan berbagai kreasi dan versi mereka masing masing dengan kelezatan tetap terasa khas.
Beranjak dewasa, Effendi makin mengintensifkan diri dalam memburu nasi goreng/mie goreng. Tidak hanya di lingkungan tempat tinggalnya, namun telah merambah ke area yang lebih luas di sekitar surabaya, di jalan Kapasan, Ondomohen, dan lainnya.
Dari pencarian rasa tersebut, ada beberapa hal yang mengganjal hati beliau dan terasa kurang tepat dalam berbagai hal, antara lain menyangkut hygine (kebersihan), mutu bahan baku yang digunakan, banyaknya porsi penyedap rasa yang selalu membuat haus setelah makan, sampai cara penyajian yang asal asalan.
Sekilas, ini mungkin bukan masalah besar bagi kebanyakan orang, namun bagi penggemar berat adi rasa ini sedikit terganggu. Inilah yang membuat Effendi semakin terobsesi untuk membuat sebuah restoran nasi goreng/mie goreng jawa yang bersih, sehat dan berkelas.
Ambisi itu Sempat Terkubur
Keinginan Effendi untuk membuka restoran nasi goreng/mie jawa sempat terkubur lama. Itu terjadi kala ia kuliah di luar negeri pada akhir tahun 1985 hingga 1990. Namun, di luar dugaan, justru insting dan kemampuan untuk memasak dan meracik bumbu lebih tersalurkan.
“Karena keterbatasan biaya, saya harus belajar untuk memasak makanan sendiri karena untuk makan di restoran Indonesia atau Asia lainnya jelas menguras kantong yang memang pas-pasan saat itu,” kenang Effendi.
Dengan kondisi yang pas-pasan itu, Effendi mulai belajar, autodidak. Ia memadukan berbagai experimen dari pengalaman rasa sebelumnya, observasi mengenai kebersihan, pengolahan makanan dan penyajian dengan standar internasional. Lambat laun, Effendi mulai bisa menciptakan dan mengubah resep-resep masakan Indonesia dengan koleksi rempah rempah yang sangat terbatas, namun bisa menghasilkan makanan yang lezat..
Tahun 1991, Effendi kembali ke Indonesia. Namun, karena latar belakang pendidikannya di bidang teknik, ia segera terbelenggu oleh kesibukan dalam merintis karier dan kemudian mengembangkan perusahaan yang didirikan. Kini, perusahaan itu berkembang menjadi grup perusahaan yang mencakup bidang Rekayasa Engineering, Proffessional Mould maker , Industri plastik, Plywood /woodworking Industry , jasa Import export dan Petro Chemical.
Kuliner itu Panggilan Jiwa
Namun, kecintaan terhadap masakan Indonesia, jiwanya tetap terpanggil untuk mendirikan sebuah restoran. Akhirnya, pada tahun 2004 bulan April, Effendi memutuskan untuk mendirikan "Kraton Resto" yang pertama dengan spesialisasi Nasi goreng/Mi goreng jawa. Kali pertama, restoran ini buka di Ruko Villa Bukit Mas RQ-02 dengan sambutan yang luar biasa dari masyarakat dan penggemar Nasi goreng/mi goreng.
Hanya saja, sambutan positif dari masyarakat itu tidak langsung membuat Effendi gegabah. Justru, ia sempat menghentikan usahanya itu sembari menyempurnakan diri dengan layanan dan manajemen yang lebih profesional. Ia ingin Konsep Kraton yang terus disempurnakan, bisa membuat masakan "Kampoeng" ini bisa diterima secara Internasional. Ia yakin bahwa nasi goreng jawa/mi goreng jawa akan bisa diterima semua kalangan apabila dikemas dalam konsep yang benar.
Proses pencarian pun kembali dilakukan Kraton Resto. Dengan pengalaman yang cukup, mulailah Effendi melakukan pencarian cita rasa sesungguhnya dari nasi Goreng jawa. Ia mulai dari penggunaan mie telor yang otentik dan diproduksi dengan resep asli dan standar kebersihan yang terbaik, bukan mie boraks yang mayoritas masih digunakan pedagang kaki lima pada umumnya. Ia menggunakan udang kupas daging, bukan udang kulit dan campuran terasi yang sering membuat iritasi pada tenggorokan usai makan. Ia gunakan kaldu asli dan bukan MSG atau penyedap masakan berlebih.
Pencarian ini ternyata memakan waktu lebih dari 4 tahun dimulai sejal tahun 2004 sampai dengan 2008 dan masih terus berlangsung hingga saat ini. Hasil dari pencarian tersebut dibukukan sebagai resep rahasi Kraton yang unik dan khas, yang berbeda dari Nasi goreng/Mi goreng jawa pada umumnya saat ini. Pelanggan kraton akan segera bisa membedakan Kraton dari yang lainnya. Karena ciri khas inilah, jumlah pelanggan terus bertambah dan datang dari pelbagai negara dan bangsa, mulai dari negara jiran Malaysia, Singapore, Taiwan sampai yang berasal dari Amerika.
Hingga saat ini tanpa terasa telah berdiri 8 Outlet Resto Kraton yang tersebar di beberapa lokasi di sekitar surabaya. Karena banyaknya permintaan untuk bekerjasama, sejak tahun 2007 Managemen Kraton telah merancang sistem managemen Franchise yang memungkin an dibukanya Outlet lain di luar surabaya namun dengan rasa yang sama di setiap outlet. (sir)






